Assertiveness atau dalam bahasa Indonesianya adalah asertif, merupakan satu dari tiga gaya merespon dalam melakukan interaksi sosial (hubungan sosial yang timbal balik) dengan orang lain. Selain asertif dikenal juga gaya merespon secara agresiveness (agresif) dan non-assertiveness (non-asertif). Ketiga gaya merespon tersebut pertama kali dirumuskan oleh Alberti dan Emmons pada tahun 1970. Manfaat dari mengenal dan mempelajari ketiga gaya merespon ini adalah untuk dapat meningkatkan efektifitas dan kenyamanan dalam berhubungan sosial dan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk dapat mengenal lebih jauh ketiga gaya merespon tersebut, maka di bawah ini akan dikemukakan pengertiannya secara umum:
a. Agresif : meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan keyakinannya dengan cara menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Seseorang dapat bersikap agresif karena terfokus pada kemenangan diri sendiri (egois) dan berusaha untuk mendominasi orang lain, serta memandang kebutuhan, keinginan, dan perasaan orang lain secara inferior (menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya).
b. Non-asertif : meliputi tindakan menyakiti kepentingan dan keinginannya sendiri dengan cara menekan dan memendam perasaan, pemikiran, dan keyakinannya serta membiarkan orang lain menyakitinya. Selain itu orang yang bertipe ini cenderung untuk mengekspresikan suatu pemikiran atau perasaan secara apoligik, malu-malu, dan tidak bisa menonjolkan kemampuan dirinya sendiri, sehingga orang lain dengan mudah dapat mengendalikan orang yang asertif ini. Seseorang yang non-asertif cenderung menuruti tuntutan orang lain dan berupaya untuk menghindari konflik. Selain itu ia pun menganggap segala kebutuhan, keinginan, dan pendapatnya tidaklah penting serta memandang orang lain lebih superior dari dirinya sendiri.
c. Asertif (kelugasan atau ketegasa): meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, keyakinan, dan perasaannya secara langsung, jujur, dan dengan cara yang tepat tanpa menyinggung atau menyakiti kepentingan orang lain maupun dirinya sendiri.
Agar dapat lebih mengenal karakteristik dari ketiga gaya merespon tersebut, maka kita dapat mengidentifikasi atau menelaahnya menggunakan dua komponen asertif, yaitu: komponen verbal dan komponen non-verbal. Komponen verbal terdiri dari bahasa lisan sedangkan komponen non-verbal terdiri dari bahasa non-lisan (bahasa tubuh).
A. Komponen Verbal :
| No. | Sikap Agresif | Sikap Non-Asertif | Sikap Asertif |
| 1. | Terlalu banyak membuat permintaan terhadap orang lain dan terlalu banyak menyuruh-nyuruh. | Tidak mampu membuat permintaan pada orang lain dan cenderung hanya menyimpannya di dalam hati. | Mampu membuat permintaan pada orang lain secara wajar dan sopan. |
| 2. | Selalu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan dari orang lain. | Tidak mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain, padahal di dalam hatinya ia tidak mau menuruti permintaan orang lain tersebut. | Mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain secara sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain dan dirinya sendiri. |
B. Komponen Non-Verbal :
| No. | Indikator | Sikap Agresif | Sikap Non-Asertif | Sikap Asertif |
| 1. | Eye Contact | Pandangan mata melotot terhadap lawan bicaranya. | Kontak mata cepat dan menghindar serta tidak mampu menatap lawan bicaranya. | Melihat dan memandang lawan bicaranya secara wajar. |
| 2. | Gesture | Bahasa tubuhnya kaku, jari menunjuk-nunjuk, dan tangan mengepalkan tinju. | Bahasa tubuhnya gugup, salah tingkah, dan tangan cenderung berkeringat. | Bahasa tubuhnya luwes, tenang, dan menunjukkan keakraban. |
| 3. | Body Posture | Postur tubuhnya tegang, kaku, membusungkan dada. | Postur tubuh bungkuk, cenderung lemah dan lemas. | Postur tubuh tegap, rileks, dan tampak tenang. |
| 4. | Facial Expression | Muka tampak memerah karena menahan emosi. | Muka tampak memerah tanda menahan malu. | Muka tampak berseri, penuh senyum, ekspresi wajahnya wajar. |
| 5. | Voice Tone and Volume | Berbicara secara keras dan berapi-api. | Berbicara secara pelan dan nyaris tak terdengar. | Berbicara dengan volume yang wajar dan lembut. |
| 6. | Speach Fluency | Berbicara kasar, menghina, dan terdengar gemerutuk suara gigi. | Berbicara terbata-bata, terkesan ragu, dan tak jelas. | Pola berbicara lancar dan menjawab secara spontan. |
| 7. | Timing | Cenderung memaksa orang untuk selalu mendengarkan segala cerita dan keluhannya tanpa memperhatikan situasi orang lain. | Tidak pernah bisa untuk memulai berkomunikasi dengan orang lain dan cenderung menunggu orang lain untuk berbicara atau menyapa terlebih dahulu. | Selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan serta keadaan orang lain sebelum memulai melakukan komunikasi. |
| 8. | Message Content | Berbicara melebihi isu yang diperbincangkan dan melebih-lebihkan dirinya sendiri. | Tidak mampu berbicara sesuai dengan isu yang diperbincangkan dan cenderung diam karena takut pada orang lain. | Berbicara pada isu yang sedang diperbincangkan, mengungkapkan perasaannya secara terbuka, dan jujur. |
Untuk dapat menggunakan gaya merespon yang tepat, maka tiap orang harus mampu untuk dapat menekan dan mengontrol sikap serta perasaan agresif dan non-asertif. Setelah itu adalah berusaha untuk menujukkan sikap perasaan, dan tingkah laku secara asertif. Untuk dapat melakukannya, setiap orang harus mempunyai keyakinan terlebih dahulu untuk bisa mengubah sikap, perasaan, dan tingkah lakunya yang agresif dan non-asertif tersebut. Lalu dibutuhkan latihan terus menerus agar sikap asertif tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara untuk dapat melatihnya adalah dengan menggunakan metode role play (bermain peran). Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang. Syaratnya di dalam kelompok tersebut tiap-tiap orang dibagi perannya masing-masing, ada yang bersikap agresif, non-asertif, dan asertif. Dalam prosesnya, tiap-tiap anggota kelompok mesti membuat teks dialog yang menunjukkan ketiga gaya merespon tersebut, dengan terlebih dahulu menentukan tema role play.
Contoh: dalam sebuah kendaraan umum ada tiga orang penumpang yang duduk bersebelahan, penumpang yang di tengah adalah seorang perokok berat yang emosional dan agresif. Sedangkan sebelah kirinya adalah ibu hamil yang pendiam (non-asertif) dan tidak mampu menegur si perokok yang ada di sebelahnya padahal dirinya merasa sangat terganggu. Penumpang yang satunya lagi adalah seorang pelajar yang memiliki sikap peduli terhadap ibu hamil tersebut dan mencoba memberitahu dan menegur si perokok itu untuk mematikan rokoknya itu. Setelah menetukan tema, silahkan teman-teman untuk membuat teks dialog yang menunjukkan situasi sesuai tema di atas. Lalu peragakanlah dalam sebuah drama yang menunjukkan peristiwa itu, hal penting yang harus diperhatikan adalah dalam membuat teks dan mengekspresikannya harus mengacu pada 8 indikator agresif, non-asertif, dan asertif. Setelah semua selesai, sekarang tukar tiap posisi pemeran sehingga tiap anggota dapat berperan dan merasakan ketiga gaya merspon tersebut. Hal ini berguna agar tiap anggota mampu untuk mengenali gaya merespon mana yang sebenarnya paling baik untuk melakukan komunikasi dan berhubungan sosial dengan orang lain. Lakukanlah proses ini berulang-ulang supaya bisa menjadi kebiasaan kalian dalam bertingkah laku sehari-hari dan buatlah tema yang sebanyak-banyaknya agar kalian lebih terlatih dan terampil. Selamat Mencoba !!!!!!!!!!!
