Selasa, 23 Maret 2010

Assertiveness Training Sebagai Salah Satu Metode Social Case Work

Assertiveness atau dalam bahasa Indonesianya adalah asertif, merupakan satu dari tiga gaya merespon dalam melakukan interaksi sosial (hubungan sosial yang timbal balik) dengan orang lain. Selain asertif dikenal juga gaya merespon secara agresiveness (agresif) dan non-assertiveness (non-asertif). Ketiga gaya merespon tersebut pertama kali dirumuskan oleh Alberti dan Emmons pada tahun 1970. Manfaat dari mengenal dan mempelajari ketiga gaya merespon ini adalah untuk dapat meningkatkan efektifitas dan kenyamanan dalam berhubungan sosial dan berkomunikasi dengan orang lain.

Untuk dapat mengenal lebih jauh ketiga gaya merespon tersebut, maka di bawah ini akan dikemukakan pengertiannya secara umum:

a. Agresif : meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan keyakinannya dengan cara menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Seseorang dapat bersikap agresif karena terfokus pada kemenangan diri sendiri (egois) dan berusaha untuk mendominasi orang lain, serta memandang kebutuhan, keinginan, dan perasaan orang lain secara inferior (menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya).

b. Non-asertif : meliputi tindakan menyakiti kepentingan dan keinginannya sendiri dengan cara menekan dan memendam perasaan, pemikiran, dan keyakinannya serta membiarkan orang lain menyakitinya. Selain itu orang yang bertipe ini cenderung untuk mengekspresikan suatu pemikiran atau perasaan secara apoligik, malu-malu, dan tidak bisa menonjolkan kemampuan dirinya sendiri, sehingga orang lain dengan mudah dapat mengendalikan orang yang asertif ini. Seseorang yang non-asertif cenderung menuruti tuntutan orang lain dan berupaya untuk menghindari konflik. Selain itu ia pun menganggap segala kebutuhan, keinginan, dan pendapatnya tidaklah penting serta memandang orang lain lebih superior dari dirinya sendiri.

c. Asertif (kelugasan atau ketegasa): meliputi cara bersikap, bertindak, dan mengekspresikan pemikiran, keyakinan, dan perasaannya secara langsung, jujur, dan dengan cara yang tepat tanpa menyinggung atau menyakiti kepentingan orang lain maupun dirinya sendiri.

Agar dapat lebih mengenal karakteristik dari ketiga gaya merespon tersebut, maka kita dapat mengidentifikasi atau menelaahnya menggunakan dua komponen asertif, yaitu: komponen verbal dan komponen non-verbal. Komponen verbal terdiri dari bahasa lisan sedangkan komponen non-verbal terdiri dari bahasa non-lisan (bahasa tubuh).

A. Komponen Verbal :

No.

Sikap Agresif

Sikap Non-Asertif

Sikap Asertif

1.

Terlalu banyak membuat permintaan terhadap orang lain dan terlalu banyak menyuruh-nyuruh.

Tidak mampu membuat permintaan pada orang lain dan cenderung hanya menyimpannya di dalam hati.

Mampu membuat permintaan pada orang lain secara wajar dan sopan.

2.

Selalu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan dari orang lain.

Tidak mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain, padahal di dalam hatinya ia tidak mau menuruti permintaan orang lain tersebut.

Mampu menolak dan berkata “tidak” terhadap permintaan orang lain secara sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain dan dirinya sendiri.

B. Komponen Non-Verbal :

No.

Indikator

Sikap Agresif

Sikap Non-Asertif

Sikap Asertif

1.

Eye Contact

Pandangan mata melotot terhadap lawan bicaranya.

Kontak mata cepat dan menghindar serta tidak mampu menatap lawan bicaranya.

Melihat dan memandang lawan bicaranya secara wajar.

2.

Gesture

Bahasa tubuhnya kaku, jari menunjuk-nunjuk, dan tangan mengepalkan tinju.

Bahasa tubuhnya gugup, salah tingkah, dan tangan cenderung berkeringat.

Bahasa tubuhnya luwes, tenang, dan menunjukkan keakraban.

3.

Body Posture

Postur tubuhnya tegang, kaku, membusungkan dada.

Postur tubuh bungkuk, cenderung lemah dan lemas.

Postur tubuh tegap, rileks, dan tampak tenang.

4.

Facial Expression

Muka tampak memerah karena menahan emosi.

Muka tampak memerah tanda menahan malu.

Muka tampak berseri, penuh senyum, ekspresi wajahnya wajar.

5.

Voice Tone and Volume

Berbicara secara keras dan berapi-api.

Berbicara secara pelan dan nyaris tak terdengar.

Berbicara dengan volume yang wajar dan lembut.

6.

Speach Fluency

Berbicara kasar, menghina, dan terdengar gemerutuk suara gigi.

Berbicara terbata-bata, terkesan ragu, dan tak jelas.

Pola berbicara lancar dan menjawab secara spontan.

7.

Timing

Cenderung memaksa orang untuk selalu mendengarkan segala cerita dan keluhannya tanpa memperhatikan situasi orang lain.

Tidak pernah bisa untuk memulai berkomunikasi dengan orang lain dan cenderung menunggu orang lain untuk berbicara atau menyapa terlebih dahulu.

Selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan serta keadaan orang lain sebelum memulai melakukan komunikasi.

8.

Message Content

Berbicara melebihi isu yang diperbincangkan dan melebih-lebihkan dirinya sendiri.

Tidak mampu berbicara sesuai dengan isu yang diperbincangkan dan cenderung diam karena takut pada orang lain.

Berbicara pada isu yang sedang diperbincangkan, mengungkapkan perasaannya secara terbuka, dan jujur.

Untuk dapat menggunakan gaya merespon yang tepat, maka tiap orang harus mampu untuk dapat menekan dan mengontrol sikap serta perasaan agresif dan non-asertif. Setelah itu adalah berusaha untuk menujukkan sikap perasaan, dan tingkah laku secara asertif. Untuk dapat melakukannya, setiap orang harus mempunyai keyakinan terlebih dahulu untuk bisa mengubah sikap, perasaan, dan tingkah lakunya yang agresif dan non-asertif tersebut. Lalu dibutuhkan latihan terus menerus agar sikap asertif tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara untuk dapat melatihnya adalah dengan menggunakan metode role play (bermain peran). Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang. Syaratnya di dalam kelompok tersebut tiap-tiap orang dibagi perannya masing-masing, ada yang bersikap agresif, non-asertif, dan asertif. Dalam prosesnya, tiap-tiap anggota kelompok mesti membuat teks dialog yang menunjukkan ketiga gaya merespon tersebut, dengan terlebih dahulu menentukan tema role play.

Contoh: dalam sebuah kendaraan umum ada tiga orang penumpang yang duduk bersebelahan, penumpang yang di tengah adalah seorang perokok berat yang emosional dan agresif. Sedangkan sebelah kirinya adalah ibu hamil yang pendiam (non-asertif) dan tidak mampu menegur si perokok yang ada di sebelahnya padahal dirinya merasa sangat terganggu. Penumpang yang satunya lagi adalah seorang pelajar yang memiliki sikap peduli terhadap ibu hamil tersebut dan mencoba memberitahu dan menegur si perokok itu untuk mematikan rokoknya itu. Setelah menetukan tema, silahkan teman-teman untuk membuat teks dialog yang menunjukkan situasi sesuai tema di atas. Lalu peragakanlah dalam sebuah drama yang menunjukkan peristiwa itu, hal penting yang harus diperhatikan adalah dalam membuat teks dan mengekspresikannya harus mengacu pada 8 indikator agresif, non-asertif, dan asertif. Setelah semua selesai, sekarang tukar tiap posisi pemeran sehingga tiap anggota dapat berperan dan merasakan ketiga gaya merspon tersebut. Hal ini berguna agar tiap anggota mampu untuk mengenali gaya merespon mana yang sebenarnya paling baik untuk melakukan komunikasi dan berhubungan sosial dengan orang lain. Lakukanlah proses ini berulang-ulang supaya bisa menjadi kebiasaan kalian dalam bertingkah laku sehari-hari dan buatlah tema yang sebanyak-banyaknya agar kalian lebih terlatih dan terampil. Selamat Mencoba !!!!!!!!!!!


Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi ??

Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial . Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya - sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Bahaya Disintegrasi Bangsa Akibat Kurangnya Pemerataan Pembangunan di Wilayah Indonesia Timur

Disintegrasi bangsa atau biasa yang disebut perpecahan atau pemisahan wilayah saat ini menjadi salah satu wacana yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia. Keberadaan Bhinneka Tunggal Ika yang dulu sempat dirintis oleh Patih Gajah Mada sewaktu mengucapkan Sumpah Palapa seakan tidak lagi dihiraukan, padahal itu dapat menjadi ancaman yang serius bagi stabilitas ketahanan nasional Negara kita. Contoh dari beberapa hal seperti lepasnya Timor Timur pada tahun 1999, Kepulauan Ambalat, serta ancaman gerakan-gerakan yang radikal seperti GAM, RMS, ataupun Gerakan Papua Merdeka seakan menjadi peringatan bagi kita bahwa ancaman disintegrasi bangsa semakin nyata. Hal itu tidak terlepas dari sikap Pemerintah Indonesia sendiri yang seakan tidak begitu memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan bahaya disintegrasi tersebut serta kurangnya rasa nasionalisme kita sebagai warga Negara Indonesia sehingga tidak mempedulikan keadaan bangsa kita saat ini yang sudah semakin terkikis oleh ancaman kapitalisme Negara maju. Seharusnya Pemerintah sadar bahwa dengan lepasnya Timor Timur pada masa Pemerintahan B.J. Habibie membuktikan bahwa bhinneka tunggal ika kita semakin terkikis. Dan itu juga merupakan salah satu bentuk intervensi Negara asing terhadap kekayaan alam Negara kita karena disinyalir di sekitar perairan laut timor terdapat daerah sumber tambang minyak bumi yang melimpah dan bisa dimanfaatkan hingga beberapa puluh tahun kedepan.

Sebenarnya disintegrasi bangsa dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya rasa nasionalisme sehingga menimbulkan sikap tidak peduli pada keadaan internal bangsa, politik yang semakin kotor sehingga menimbulkan sikap tidak percaya terhadap Pemerintahan, dan kurangnya Pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antar daerah. Faktor inilah yang seharusnya mulai dari sekarang Pemerintah kita segera melakukan tindakan yang cepat dan tepat guna mencegah masalah tersebut. dan salah satu yang perlu di perhatikan adalah kurangnya pemerataan pembangunan khususnya terhadap wilayah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi kenyataannya pembangunan di wilayah tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan yang lainnya, dan contoh dari kasus ini adalah pembangunan di wilayah Indonesia timur.

Wilayah Indonesia timur seperti Maluku dan papua adalah propinsi yang terletak di wilayah timur Indonesia. Kedua wilayah tersebut dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Papua yang kaya akan emas dan peraknya sedangkan Maluku kaya akan hasil laut dan rempah-rempahnya. Orang-orang papua bangga akan hasil kekayaan alamnya yang sekarang diambil alih oleh PT Freeport yaitu berupa tambang mineral yang katanya tidak akan pernah habis hingga puluhan tahun kedepan. Sedangkan Maluku bangga dengan laut bandanya yang disebut-sebut sebagai surganya hewan laut karena setiap musim panas ikan-ikan dari seluruh penjuru dunia berkumpul dan berkembang biak dengan cepat disana sehingga Maluku kaya akan hasil lautnya selain itu sejak zaman penjajahan belanda Maluku juga dikenal sebagai surganya rempah-rempah dan sampai sekarang kualitas rempah-rempah dari Maluku sudah diakui oleh dunia internasional. Tetapi yang patut dipertanyakan mengapa dengan wilayah yang kaya akan sumber daya alamnya sedemikian rupa tetapi tidak disertai pembangunan yang merata dan bahkan bisa dikatakan masih tertinggal dibandingkan propinsi atau wilayah lainnya? Dan ini menjadi wacana yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia saat ini agar bahaya disintegrasi bangsa dapat sepenuhnya di tindak dengan cepat dan tidak meluas ke wilayah yang lainnya.

Intervensi Pekerjaan Sosial

· Intervensi Pekerjaan Sosial adalah aktivitas profesional Pekerjaan Sosial yang dikenakan/ditujukan kepada orang, baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat, baik yang bersifat residual ataupun institusional, baik langsung maupun tidak langsung, baik preventif, kuratif-rehabilitatif, developmental-edukatif, maupun preventif, yang dilandasi oleh seperangkat ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan kode etik profesi.

· Dalam intervensi ini terkandung berbagai aspek atau dimensi, seperti : bidang garapan, proses, prinsip, strategi, fungsi, metode, dll.

1. Pendekatan Pekerjaan Sosial

· Dualistic Approach

Pendekatan ini didasari asumsi bahwa “Masalah yang dihadapi manusia adalah hasil interaksi sosial manusia (penyandang masalah) dengan lingkungannya”, oleh karena itu pemecahan masalah harus diawali dengan memandang manusia dan lingkungannya sekaligus, dan pemecahan masalah harus dilakukan terhadap penyandang masalah dan lingkungannya sekaligus.

· Holistic Approach/Comprehensive Approach

Pendekatan ini didasari asumsi bahwa “Setiap masalah yang dihadapi manusia tidak pernah berdiri sendiri atau tunggal”, artinya satu masalah selalu terkait dengan masalah lain atau mencakup beberapa aspek/dimensi manusia. Oleh karena itu pemecahan satu masalah harus dikuti dengan pemecahan masalah lain yang terkait atau menyeluruh atau secara luas.

2. Sistem-Sistem Dasar Pekerjaan Sosial

Sistem-sistem dasar pekerjaan sosial atau 4 sistem dasar pekerjaan sosial dapat dikatakan sebagai penjabaran dari pendekatan dualistik dan sekaligus pendekatan wholistik/komprehensif.

Jika dianalogikan dengan bidang kedokteran, Pekerja Sosial yang sedang membantu orang memecahkan masalahnya, ibarat dokter yang sedang menangani/menyembuhkan penyakit pasiennya. Pasien dari Pekerja Sosial disebut Klien, sedangkan Pekerja Sosial disebut Pelaksana Perubahan.

Untuk menyembuhkan penyakit pasiennya, dokter cukup memberikan perlakuan kepada pasiennya saja (pendekatan monolistik), tetapi Pekerja Sosial tidak dapat/boleh menggunakan pendekatan monolistik. Sesuai dengan asumsi yang mendasari, satu masalah yang dihadapi orang pasti melibatkan atau terkait dengan interaksinya dengan lingkungannya. Artinya masalah itu hasil interaksi keduanya. Oleh karena itu keduanya harus diberi perlakuan.

Masalah manusia selalu multidimensional atau kompleks, artinya mencakup/melibatkan aspek lain. Pekerjaan Sosial hanya kompeten di bidangnya. Kompetensi bidang lain harus diserahkan pada porfesi lain yang kompeten dengan bidang masalahnya.

· Sistem Pelaksana Perubahan (Change Agent System)

Sekelompok orang yang tugasnya memberikan bantuan atas dasar keahlian yang berbeda-beda dan bekerja dengan sistem yang berbeda ukurannya.

· Sistem Klien (The Client System)

Orang (perseorangan, keluarga, kelompok, masyarakat yang di samping menjadi penerima bantuan jga merupakan sistem yang meminta bantuan bantuan.

· Sistem Sasaran

Sistem sasaran adalah orang-orang yang dijadikan sasaran perubahan atau pengaruh , agar tujuan dapat dicapai.

· Sistem Kegiatan ( orang-orang yang bersama-sama dengan pekerja sosial berusaha untuk menyelesaikan tugas-2 dan mencapai tujuan dan mencapai tujuan usaha perubahan)